Minggu, 11 Januari 2026

                                                         

 

                          Pilu dan  Luka yang Tidak  Bisa              Diungkapkan

             

                                       Ilustrasi Foto ; Diam Dan  Menenungkan 

 

Ada rasa sedih luka-luka tertentu yang tidak pernah selesaikan. Ada rasa sedih yang terus tertahan di tenggorokan, bergulung seperti ombak di pantai map yang tidak menemukan pantai. Luka semacam itu bukan hanya dialami oleh satu orang; kadang ia adalah rasa pahit yang muncul  seribu mulut yang terdiam. Dan di Tanah Papua, luka itu menjelma menjadi udara yang berat, tanah yang , dan hutan yang berderu tanpa suara. Ia ada di dalam dada seorang anak muda yang pulang dan melihat kampungnya tidak lagi penuh pepohonan; ia juga hidup dalam tubuh seorang mama yang harus berjalan lebih jauh mencari sagu karena rawa sudah berubah menjadi kolam buatan.Papua adalah surga yang jatuh ke bumi. Tetapi bagi orang Papua sendiri, sebutan itu bukan sekadar kata manis. Itu adalah kenyataan yang mereka  lihat setiap hari dalam bentuk gunung yang menjulang seperti benteng raksasa, sungai yang mengalir jernih tanpa lelah, hutan yang padat dan hangat, serta tanah yang tidak hanya diinjak tetapi juga dihormati sebagai ibu yang memberi hidup.Bagi orang Papua, tanah bukan sekadar permukaan tempat berdiri. Tanah adalah sejarah, napas, dan hubungan antara leluhur dan anak cucu. Hutan bukan hanya tempat berburu; ia adalah ruang belajar, ruang makan, ruang bermain anak-anak, tempat para lelaki mencari kayu busur, tempat perempuan memetik daun obat atau mencari ikan kecil di rawa-rawa. Alam bukan sekadar pemandangan, tetapi rumah yang utuh. Namun sekarab Tanah diambil, hutan dibongkar, sungai berubah warna, dan gunung dilubangi. Alam yang selama berabad-abad memberi hidup kini mulai porak-poranda karena kekuatan yang tidak bisa mereka kendalikan. Dan dalam proses perubahan ini, ada luka yang sulit diceritakan dengan kata-kata. Ada rasa sedih yang begitu berat hingga tidak sanggup menjadi kata. Ia tinggal sebagai gumpalan pilu yang menempel di dada, menahan napas, mengunci suara. Luka semacam itu tidak dibangun dalam sehari; ia tumbuh perlahan, berasal dari kehilangan yang datang sedikit demi sedikit. Dan di Papua, luka itu terasa seperti kabut dingin yang turun dari pegunungan, menyelimuti lembah dan kampung-kampung adat, membuat hati orang Papua meringkuk dalam diam.Papua sering disebut surga  yang jatuh ke bumi. Orang-orang jauh datang untuk melihat lautnya yang biru, seperti di raja empat gunungnya yang gagah, hutannya yang tak berujung, dan sungainya yang masih bernapas. Surga itu adalah hidup mereka. Surga itu adalah rumah, tempat mereka berjalan tanpa takut kehilangan apa pun. Surga itu adalah tanah yang memberi makan, hutan yang mengajarkan kearifan, air yang menyembuhkan, dan angin yang membawa pesan leluhur.Namun hari ini, banyak orang Papua merasa surga itu mulai berubah menjadi tempat yang asing. Tanah yang dulu milik mereka kini dipatok-patok. Hutan yang dulu menjadi ruang bermain anak-anak kini bolong dan rata. Laut yang dulu diisi ikan melimpah kini tercemar. Sungai yang dulu jernih berubah keruh. Dan di dalam semua perubahan itu, ada luka yang sulit diungkapkan.

’’Luka yang bukan hanya tentang kehilangan tanah, tetapi kehilangan jati diri.

Luka yang bukan hanya tentang kerusakan hutan, tetapi kerusakan harapan’’

 

I. Papua Tempat Di Mana Alam Menjadi Guru

Sejak  Zaman dulu, orang Papua hidup utamakan  dengan alam. Alam bukan milik yang bisa dijual atau dipindahkan semaunya; ia adalah warisan yang dijaga bersama. Tidak ada satu keluarga pun yang hidup terpisah dari tanahnya, karena di sanalah mereka mengenal diri, mengenal leluhur, dan mengenal arti kebersamaan.

Roky Gerung pernah berkata: Alam adalah tempat menhangatkan manusia dan tempat jiwa tapi, masih orang-orang membuat tidak peduli  dengan alam orang-orang  asing. Gerung kontekan di luar negara seperti amerika dll. Amerika dll, alam masih utuh dibangdingkan negara  indonesia.Negera indonesia kita tidak  pedulih alam dan  jaga alam . perluh ketahui elit jakartta atau orang-orang asing alam adalah salah satu obat untuk manusia.

Seorang bapak suku menyebut tanah sebagai “embelak wene”tempat tubuh kembali setelah perjalanan panjang. Mama-mama menyebut hutan sebagai “simbi” tempat yang selalu melindungi. Dan anak-anak memanggil sungai sebagai “mama yao”—yang memberi minum ketika haus.Di balik semua sebutan itu, ada cara hidup yang sangat berbeda dengan dunia modern yang melihat tanah sebagai angka dan hutan sebagai komoditas. Bagi orang Papua, setiap pohon besar adalah saksi dari ratusan cerita; setiap batu punya nama; setiap tikungan sungai punya legenda. Itulah mengapa ketika pohon besar tumbang, banyak orang tua merasa ada bagian dari sejarah yang ikut hilang. Di lembah-lembah, suara burung cenderawasih dulu menjadi nyanyian pagi yang tidak pernah terputus. Kini banyak yang berkata bahwa suaranya semakin jarang, bukan karena burungnya punah, tetapi karena hutan tempat mereka menari semakin habis.Tanah adalah ibu, bukan komoditas. Hutan adalah sahabat, bukan barang dagangan. Sungai adalah saudara, bukan sumber uang. Itulah filosofi yang telah turun-temurun dijaga oleh suku-suku dari pesisir hingga pegunungan.Di kampung-kampung adat, anak-anak dibesarkan dengan cerita tentang bagaimana tanah ini diberikan oleh leluhur. Mama-mama mengajari mereka bagaimana menghormati sungai, bagaimana memetik daun tanpa merusak batangnya, bagaimana menebang pohon sambil menanam kembali bibit untuk generasi baru. Para bapak mengajarkan cara berburu yang benar: tidak membunuh hewan kecil, tidak mengambil lebih banyak dari yang dibutuhkan.

Alam adalah sekolah. Alam adalah kitab kehidupan.Orang Papua tidak pernah bergantung pada pasar untuk bertahan hidup. Mereka bergantung pada hutan, pada sungai, pada tanah yang subur. Di tanah inilah mereka menanam keladi, sagu, sayur  dan dalam hutan. Di sungai inilah mereka menangkap ikan. Di hutan inilah mereka mencari kayu, berburu, dan mengumpulkan madu. Satu keluarga bisa hidup hanya dengan alam. Satu kampung bisa bertahan hanya dari tanahnya sendiri.Karena itu ketika tanah dan hutan hilang, kehidupan pun terancam.

 

II. Ketika Tanah Mulai Berubah

Beberapa tahun terakhir, sesuatu mulai berubah. Tanah-tanah adat yang selama ini dijaga turun-temurun tiba-tiba rusak . Pohon-pohon yang dulu tegak ratusan tahun kini tumbang dalam hitungan jam atau menit . Sungai-sungai yang dulu jernih berubah kabur oleh lumpur dan limbah. Rawa tempat mama-mama mencari ikan kecil atau mengumpulkan daun keladi mulai mengering.Bapak-bapak yang biasa pergi berburu harus berjalan lebih jauh, melintasi lembah dan bukit yang kini berubah menjadi jalan tanah merah yang panas. Mama yang dulu mencari sayur hutan di belakang rumah harus pergi hampir satu jam berjalan kaki karena hutan sudah ditebang. Anak-anak yang dulu bermain di bawah naungan pohon besar kini harus menunggu debu turun setelah truk-truk besar lewat.

Dan perlahan-lahan, banyak yang mulai bertanya:

“Mengapa tanah kami diambil?

Mengapa hutan kami dibongkar?

 Mengapa alam kami harus dirusak?”

Pertanyaan itu tidak hanya keluar dari bibir orang dewasa maupun  anak kecil pun ikut bertanya karena mereka melihat perubahan yang sangat terasa. Mereka melihat kampung yang dulunya hijau kini berubah gersaang , sungai yang dulu tempat mandi kini penuh lumpur, dan suara mesin menggantikan suara burung.

Tetapi yang terjadi di banyak tempat bukanlah perubahan yang lahir dari kesepakatan atau dari pemahaman budaya lokal. Banyak yang merasa bahwa suara mereka tidak didengar, bahwa tanah tempat mereka mencari nafkah hilang tanpa pilihan. Orang Papua terbiasa hidup diatas tanah,hutan dan alam seprtinya dari sagu,ubi,keladi dan , ikan sungai, dari sayur hutan, dari tanah yang mereka kelola sendiri. Tetapi ketika tanah itu hilang, sumber hidup itu ikut hilang. Perubahan itu tidak datang dalam satu malam. Ia datang seperti gigitan semut yang kecil, tapi terus-menerus. Pelan, tetapi pasti. Tanah mulai dipetak atas nama pembangunan. Hutan dibuka untuk perkebunan besar. Sungai-sungai diganggu oleh limbah. Gunung-gunung dilubangi. Bukit-bukit diratakan untuk proyek yang tidak pernah ditanyakan kepada orang kampung.Di satu tempat, mama-mama yang biasa mencari sagu terkejut melihat rawa-rawa digali menjadi kolam penampung. Tempat yang selama puluhan tahun menjadi “dapur alam” tiba-tiba hilang  menjadi kelapa sawit . Mereka harus berjalan jauh ke hutan lain, mengambil waktu lebih lama, dan membawa pulang lebih sedikit.Di tempat lain, sungai berubah kecoklatan. Anak-anak yang dulu mandi dengan riang kini takut karena kulit mereka gatal. Ikan-ikan mati mengambang. Warga kampung tidak tahu lagi harus mengambil air di mana.Di perkampungan pegunungan, suara burung cenderawasih makin jarang terdengar. Bukan karena burungnya hilang begitu saja, tetapi karena pepohonan besar tempat mereka menari sudah ditebang.Dan di balik semua itu, banyak orang Papua merasa tidak punya pilihan. Mereka merasa seperti tamu di tanah mereka sendiriMereka merasa tidak lagi memegang kendali atas masa depan anak-anak mereka. 

Bagaimana mungkin sebuah surga bisa bertahan ketika tanahnya diperebutkan dan hutannya tak lagi dihormati?

Ada luka yang bisa diberi nama: kemiskinan, kehilangan tanah, ketidakadilan.

Tetapi ada juga luka yang tidak bisa diberi nama. Luka yang terasa di dalam dada tapi tidak bisa dikeluarkan. Luka yang membuat orang Papua berdiri diam sambil melihat kampungnya berubah menjadi tempat yang tidak ia kenal.

Luka itu adalah:ketika seorang bapak melihat tanah yang ia jaga sejak muda kini dikelilingi garis-garis batas yang ia tidak mengerti,ketika seorang mama menangis pelan saat melihat pohon-pohon besar tumbang seperti mayat yang tidak dihormati,ketika anak kecil bertanya, “Mama, hutan kita pergi ke mana?” dan sang mama tidak punya jawabannya.Luka itu diam. Tetapi diam bukan berarti tidak sakit. Justru diam adalah tanda bahwa rasa sakit,rasa sedih  itu terlalu dalam untuk Orang Papua bukan tidak mau bicara. Mereka hanya lelah. Mereka hanya tidak tahu lagi kepada siapa harus bercerita. Mereka hanya tidak ingin suara mereka diputarbalikkan. Maka luka itu mereka simpan.

 

III. Alam Sebagai Nafas Kehidupan

Untuk orang Papua, mencari nafkah bukan hanya tentang mendapatkan uang. Mencari nafkah berarti menjaga keseimbangan antara hidup manusia dan alam. Ketika seorang pemuda pergi ke hutan berburu, ia tidak membunuh hewan sembarangan. Ia tahu batasnya. Ia tahu jenis hewan apa yang boleh diburu dan mana yang harus dibiarkan berkembang biak. Demikian pula dengan mama-mama yang pergi mencari sayur; mereka tidak memotong batang muda agar tumbuhan bisa tumbuh kembali. Itulah prinsip hidup yang diwariskan turun-temurun: mengambil secukupnya, menjaga sebanyak-banyaknya.Tetapi ketika hutan dibuka untuk perkebunan monokultur, ketika tanah diratakan untuk tambang besar, ritme hidup itu hancur. Orang Papua tidak lagi bisa mengandalkan alam sebagai sumber makanan. Mereka harus membeli beras, minyak, dan sayur yang tidak lagi bisa ditemukan di hutan. Padahal dulu, makanan mereka selalu tersedia gratis karena alam memberi tanpa meminta imbalan.Seorang mama di pesisir pernah berkata:“Dulu kami makan dari mama tanah. Sekarang kami beli dari tokoh. Kami kehilangan cita rasa hidup kami.”Itulah salah satu luka yang paling sulit dijelaskan. Luka yang tidak hanya terasa di perut yang lapar, tetapi juga di jiwa yang merasa kehilangan identitas. Sebagian besar orang Papua hidup dari alam. Hutan adalah pasar mereka, kebun mereka, gudang makanan mereka. Tetapi kini, untuk banyak keluarga, semua itu berubah.

Di beberapa tempat, hutan sagu sudah ditebang untuk membuka lahan. Sagu yang selama ratusan tahun menjadi makanan utama kini sulit didapat. Mama-mama harus mengeluarkan uang untuk membeli beras, sesuatu yang dulu tidak perlu mereka lakukan.Di lembah-lembah, babi hutan yang menjadi makanan penting manusia Papua makin sedikit karena habitatnya rusak. Bapak-bapak kembali dari berburu dengan tangan kosong. Anak-anak mulai kelaparan.Di pesisir, mama-mama yang biasa mencari ikan di laut tidak dapat apa-apa karena air terlalu keruh. Banyak keluarga kini mengandalkan mie instan karena itu satu-satunya makanan murah yang tersedia.Ini bukan sekadar perubahan ekonomi. Ini perubahan cara hidup.

Bagaimana orang Papua bisa hidup tanpa tanah, tanpa hutan, tanpa sungai?

Alam bukan sekadar tempat mencari uang. Alam adalah tempat mereka bertahan hidup tanpa harus menjual apa pun.Ketika alam hilang, mereka kehilangan masa depan

 

IV. Luka yang Tidak Bisa Diungkapkan

Ada yang mengatakan bahwa orang Papua diam karena mereka tidak tahu berbicara. Itu salah besar. Orang Papua tahu berbicara, tahu marah, tahu menangis, dan tahu bersuara. Tetapi luka tertentu membuat kata-kata terasa terlalu kecil.

Bagaimana seseorang bisa menjelaskan rasa sakit ketika melihat tanah leluhur dijual tanpa sepengetahuannya?

Bagaimana mama bisa menjelaskan kesedihannya ketika ia melihat tempat ia biasa mencari sagu berubah menjadi tanah kosong?

Bagaimana anak kecil bisa menjelaskan ketakutannya saat melihat gundukan tanah raksasa yang dulu adalah bukit hijau tempat ia bermain?

Itu bukan luka yang mudah diceritakan. Itu adalah luka yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang menginjak tanah itu sejak lahir. Luka yang terukir dalam diam, dalam tatapan kosong, dalam napas berat yang ditahan. Orang Papua tidak butuh belas kasihan. Mereka butuh didengar.

 

V. Mencari Keadilan, Menjaga Harapan

Meski ada banyak luka, harapan itu belum mati. Papua adalah tanah yang keras, tetapi hatinya lembut dan orang Papua belajar dari leluhur bahwa setiap luka, betapapun dalamnya, bisa sembuh jika dirawat bersama.

Harapan itu hidup ketika ada kampung yang berhasil mempertahankan hutan adatnya. Harapan itu muncul ketika anak-anak muda Papua belajar tentang hukum, lingkungan, dan budaya adat supaya kelak mereka bisa melindungi tanahnya sendiri. Harapan itu ada ketika mama-mama menanam kembali tumbuhan yang hampir punah di kebun kecil belakang rumah. Harapan itu hidup dalam doa setiap malam yang dipanjatkan kepada pencipta alam. Dan semoga harapan itu tidak hanya menjadi beban orang Papua sendiri. Tanah ini terlalu berharga untuk dihancurkan. Hutan ini terlalu indah untuk hilang. Sungai ini terlalu suci untuk dikotori. Alam ini bukan hanya milik satu generasi atau satu kelompok, ia milik semua yang hidup, dan semua yang akan lahir. Banyak orang Papua merasa asing di tanah sendiri. Jalan-jalan besar dibangun, tetapi tidak untuk mereka. Gedung-gedung tinggi muncul, tetapi mereka tidak punya akses ke dalamnya. Tanah-tempat mereka bermain kini menjadi tempat asing yang mereka tidak boleh sentuh.Di kampung-kampung yang disentuh “pembangunan”, anak-anak Papua melihat mesin-mesin besar bekerja tanpa henti. Tetapi mereka tidak melihat masa depan untuk diri mereka di sana. Semua terasa seperti pementasan besar di mana mereka hanya menjadi penonton.

“Ini tanah kami,” kata mereka dalam hati. “Tapi kenapa kami tidak merasa seperti pemiliknya?

Pdt.Yoman Sokerates pernah berkata:“Orang Papua tidak takut pada perubahan. Mereka hanya takut kehilangan tempat untuk berdiri.”Dan itulah yang terjadi hari ini. Mereka kehilangan tempat berdiri—secara harfiah dan batin.

 

VI. Papua Masih Surga, Selama Masih Ada Yang Menjaga

Walau banyak yang telah rusak, Papua tetap indah. Matahari masih turun perlahan di balik spegunungan Cyclop, senja kaiman masih menerani setiap sudut . Air laut di Raja Ampat masih berkilau seperti kaca pecah terkena cahaya. Lembah Baliem masih hijau dengan kabut tipis yang menggantung setiap pagi. Burung-burung masih menari di udara, meski jumlahnya berkurang.Surga ini belum hilang. Tetapi surga bisa lenyap jika tidak dijaga.Oleh sebab itu, suara orang Papua perlu lebih didengar. Tidak hanya ketika terjadi masalah, tetapi setiap hari. Mereka bukan penghalang pembangunan mereka pemilik sah dari tanah itu. Mereka bukan orang yang tidak ingin maj mereka hanya ingin maju tanpa kehilangan identitas. Mereka bukan masyarakat yang tertinggal mereka adalah penjaga alam yang pengetahuannya jauh melampaui buku dan teori. Meskipun banyak yang rusak, Papua tetaplah tanah yang penuh keindahan. Lautnya masih berkilau, hutannya masih bernapas, sungainya masih mengalir. Tetapi surga itu penuh luka. Dan surga yang terluka hanya bisa sembuh jika ada tangan yang mau merawatnya.

Orang Papua sebenarnya tidak menolak pembangunan. Mereka hanya ingin pembangunan yang menghormati tanah mereka, menghormati cara hidup mereka, menghormati hak mereka sebagai anak asli pemilik tanah.

 

VII. Penutup: Suara yang Harus Didengarkan

Luka yang tidak bisa diungkapkan itu bukan berarti tidak ada. Ia nyata. Ia hidup. Ia tumbuh. Tetapi luka itu juga bisa sembuh jika ada ruang untuk bersuara tetapi ruangan  itu belum kasih kesempatan. Jika ada kesempatan untuk menentukan masa depan bersama. Jika ada penghargaan terhadap budaya dan tanah yang telah dijaga begitu lama.Papua adalah surga. Dan surga tidak akan bertahan jika kita hanya memandangnya dari jauh tanpa peduli bagaimana ia dijaga. Alam Papua adalah anugerah bukan hanya bagi orang Papua, tetapi bagi seluruh dunia. Namun anugerah itu harus dirawat dengan hati-hati, dengan menghormati mereka yang telah menjaganya selama ribuan tahun.Ini bukan hanya cerita tentang hutan dan tanah yang hilang. Ini adalah cerita tentang sebuah bangsa yang sedang berjuang mempertahankan jati dirinya di tengah arus besar dunia modern. Ini adalah cerita tentang manusia, alam, dan luka yang akhirnya harus diungkapkan agar dunia tahu bahwa ada suara yang belum pernah didengar Luka orang Papua bukan sekadar cerita tentang penderitaan. Itu juga adalah permintaan:

“Dengarkan kami.”

 Dengarkan mama-mama adat yang menangis diam di pinggir hutan.

Dengarkan bapak-bapak yang kehilangan tanahnya tanpa bisa berkata apa-apa.

Dengarkan anak-anak yang kehilangan tempat bermain.

Dengarkan suara burung yang kini jarang terdengar.

Dengarkan suara sungai yang mulai sekarat.

Luka ini tidak harus berakhir dengan kesedihan. Papua masih punya harapan. Harapan itu ada pada anak-anak muda yang belajar menjaga tanah. Harapan itu ada pada mama-mama yang tetap menanam sagu meski banyak yang ditebang. Harapan itu ada pada bapak-bapak yang mengajarkan anaknya mencintai alam. Harapan itu ada pada masyarakat adat yang terus berjuang mempertahankan hak mereka. Harapan itu juga ada pada siapa pun yang mau mendengar dan ikut menjaga tanah ini.

Papua bukan sekadar daerah. Papua adalah kehidupan. Papua adalah sejarah. Papua adalah rumah besar bagi manusia, hewan, tumbuhan, dan roh leluhur yang masih hidup dalam setiap hembusan angin. Oleh sebab itu kapan nasib sendiri itu?

 

Penulis oleh : yon paniai

 

 

  

            

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

                                                                                       Pilu dan  Luka yang Tidak  Bisa              Diung...